Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan nama saya Nanda Setiawan, saya bekerja sebagai guru kelas SD di SDN Aluh-Aluh Besar 1 Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

Selasa, 21 Maret 2017

1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.
2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.
3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.
4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya… tidak ada seorang pun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.
5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.
6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.
7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.
8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.
9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.
10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.
11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.
12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.
13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.
14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.
15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.
16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.
17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.
18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.
19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.
20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.
21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.
22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapa pun.
23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.
24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.
25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?”
26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.
27. Menerima undangan para abdi dan budak.
28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.
29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.
30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.
31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.
32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, “Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.”
33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.
34. Tidak pernah merendahkan seseorang.
35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.
36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.
37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.
38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.
39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.
40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.
42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.
43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.
44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.
45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.
46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.
47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.
48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.
49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.
50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.
51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.
52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Saw. Beliau selalu mengatakan, “Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!”
53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Saw pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.
54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.
55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.
57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.
58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.
59. Saat gembira, Rasulullah Saw memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.
60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.
62. Rasulullah Saw mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.
63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.
64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.
65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.
66. Rasulullah Saw tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.
67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.
68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.
69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.
70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.
71. Duduk dan makan di atas tanah.
72. Tidur di atas tanah.
73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.
74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.
75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.
76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.
77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.
78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumny pasti diberikan kepada fakir miskin.
79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.
80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.
81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.
82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.
83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti menyikat giginya.
84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.
85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.
87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.
88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.
89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.
90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.
91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.
92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.
93. Tidak pernah makan dua model makanan.
94. Ketika makan tidak pernah sendawa.
95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.
96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.
97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.
98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.
99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.
100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian : satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.
7 tanda-tanda seseorang mendapat kebahagian Dunia dan Insya Allah di akhirat 

Assalammu’alaikum Warhmatullahi Wabarakaatuh.
Sahabat setia Rasulullah SAW, Ibnu Abbas ra.  yang pada usia 9 tahun  sudah hafal Al-Qur’an memberikan penjelasan bahwa  ada 7 tanda-tanda seseorang mendapat kebahagian Dunia dan Insya Allah di akhirat adalah sbb:
1. Qolbun Syakirun  ( Hati yang selalu bersyukur).
Selalu bersyukur berarti selalu menerima apa adanya (qanaah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada “stress”, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur ikhlas atas apa2 yang dikehendaki Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat akan hadist Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”.
Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya.
2. Al-Azwaju  Shalihah  ( Pasangan hidup yang shalih-shalihah ).
Pasangan hidup yang shalih akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalihan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang shalih, yang pasti sang suami akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang shalihah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya.3
3. Al-Auladul Abrar  ( Anak-anak  yang shalih-shalihah)
Sungguh Allah ridho kepada orang tua yang shalih yang memiliki anak2 yang shalih pula. Amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang shalih, dimana do’a anak yang shalih kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah SWT. Berbahagialah orang tua yang memiliki anak2 yang shalih-shalihah.
4. Al-Biatu  Sholihah  ( Lingkungan yang kondusif).
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif, kita boleh mengenal siapapun disekitar kita, tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang shalih adalah orang-orang yang bahagia karena mendapatkan nikmat Iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih.
5. Umur yang barokah.
Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin shalih, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah.
–     Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan “dunia “, Orang tersebut hanya mendapatkan dunia & di akherat nanti termasuk orang2 yang merugi. Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.
–     Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk “akhirat” , maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Allah SWT, Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih dengan memperbanyak Ibadah & amalan shalih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang barokah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah.
6. Tafakuh  Fid-dien, (Semangat untuk memahami Islam).
Semangat memahami agama Islam diwujudkan dalam semangat memahami Al Qur’an & Al Hadist. Semakin seseorang belajar, maka semakin orang tsb terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, “hati yang hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat Iman. Maka berbahagialah orang2 yang penuh semangat untuk selalu memahami Al Qur’an & Al Hadistdan berusaha untuk mengamalkan dalm kehidupan sehari-hari.
7. Al-Malul  Halal (Harta yang halal).
Harta yang thoyibah bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya harta.  Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam Hadist disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan.
“Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”.
Berbahagialah menjadi orang yang “hartanya halal” karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka “hatinya semakin bersih, suci dan kokoh”, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan setiap harta & risky yang mereka peroleh.
Demikianlah beberapa indikator seseorang itu dalam menjalankan hidup yang penuh dengan barokah & rahmat Allah SWT, Agar kita memperbanyak do’a sapu jagat dengan khusuk & ikhlas, semoga Allah SWT memberikan kebahagian kepada kita baik didunia dan di Akhirat dan dibebaskan dari sentuhan api neraka, amien.
Wassalammu’alaikum  warahmatullahi wabarakaatuh.
I KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW SEKITAR SHALAT
Selalu shalat sunnah fajar
Meringankan shalat sunnah fajar
Membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun dalam shalat fajar (ayat lain yang dibaca Nabi dalam shalat sunnah fajar)
Berbaring sejenak setelah shalat sunnah fajar
Mengerjakan shalat sunnah di rumah
Selalu shalat sunnah empat rakaat sebelum dhuhur
Mengganti dengan empat rakaat setelah duhur jika tidak sempat shalat sebelumnya
Shalat sunnah dua atau empat rakaat sebelum ashar
Shalat sunnah dua rakaat sesudah maghrib
Shalat sunnah setelah Isya’
Mengakhirkan shalat Isya’
Memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan rakaat kedua
Selalu shalat malam (waktu shalat malam Rasulullah saw)
Menggosok gigi apabila bangun malam
Membuka shalat malam dengan 2 rakat ringan
Shalat malam sebelas rakaat (format shalat malam Nabi sebelas rakaat)
Memanjangkan shalat malamnya
Membaca surat Al-A’la, Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam shalat witir
Mengganti shalat malam di siang hari jika berhalangan
Shalat dhuha empat rakaat
Tetap duduk hingga matahari bersinar setelah shalat subuh
Meluruskan shaf sebelum mulai shlaat jama’ah
Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, akan ruku’ dan bangun dari ruku’
Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
Mengarahkan pandangan ke tempat sujud
Merenggangkan kedua tangan ketika sujud hingga tampak ketiaknya yang putih
Memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud dan mengarahkan pandangan ke arah jari telunjuk
Meringankan tasyahhud pertama
Meringankan shalat jika berjama’ah
Menghadap ke arah kanan makmum selesai shalat jama’ah
Bersegera ke masjid begitu masuk waktu shalat
Selalu memperbarui wudhu setiap kali akan shalat
Tidak menshalatkan jenazah yang masih berhutang
Menancapkan tombak sebagai pembatas jika shlaat di tanah lapang
Mengajari shalat kepada orang yang baru masuk Islam
II. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI HARI JUM’AT DAN DUA HARI RAYA
Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam shalat subuh di hari Jum’at
Memotong kuku dan kumis setiap hari Jum’at
Mandi pada hari Jum’at
Memakai pakaian terbaik untuk shalat jum’at
Memendekkan khutbah Jum’at dan memanjangkan shalat
Serius dalam khutbahnya dan tidak bergurau
Duduk di antara dua khutbah Jum’at
Membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dalam shalat Jum’at
Shalat sunnah setelah jum’at
Tidak langsung shalat sunnah setelah Jum’at
Mandi sebelum berangkat shalat Id
Memakai pakaian teraik ketika shalat Id
Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Idul Fitri
Baru makan sepulang dari melaksanakan shalat Idul Adha
Shalat Id di tanah lapang
Mengajak semua keluarganya ke tempat shalat Id
Memperlambat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha
Langsung shalat Id tanpa Adzan dan Iqomah
Dua kali khutbah dengan diselingi duduk
Pergi dan pulang melalui jalan yang berbeda
Berjalan kaki menuju tempat shalat Id
Membaca surat Qaaf dan Al-Qamar dalam shalat Id
Menyembelih hewan kurban di tempat pelaksanaan shalat Id
III. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MASALAH PUASA
Puasa dan berbuka secara seimbang
Berbuka puasa sebelum shalat maghrib
Berbuka dengan korma
Tetap puasa meskipun bangun dalam keadaan junub
Berpuasa jika tidak mendapatkan makanan di pagi hari
Membatalkan puasa sunnah jika memang ingin makan
Banyak puasa di bulan sya’ban
Puasa enam hari syawal
Puasa hari Arafah
Puasa Asyura atau sepuluh muharam
Puasa hari senin dan kami
Puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan
Mencium istri di siang hari
IV. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI BULAN RAMADHAN
Memperbanyak sedekah
Memperbanyak membaca Al-Qur’an
Mengakhirkan waktu sahur
Puasa wishal
Memperbanyak shalat malam (menghidupkan malam ramadhan)
I’tikaf
Menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarganya
Menyuruh para sahabat agar bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar
V. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MAKAN DAN MINUM
Tidak pernah mencela makanan
Tidak makan sambil bersandar
Makan dan minum dengan tangan kanan
Makan dengan tiga jari
Menjilati jari-jemari dan tempat makan selesai makan
Mengambil nafas tiga kali ketika minum
Minum dengan duduk dan berdiri
Mulai makan dari pinggir tempat makan
Berdo’a sebelum dan sesudah makan
Tidak pernah kenyang dua hari berturut-turut
Tidak pernah makan di depan meja makan
VI. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM TIDURNYA
Tidur dalam keadaan suci
Tidur di atas bahu sebelah kanan
Meletakkan tangan di bawah pipi
Meniup kedua tangan dan membaca do’a lalu mengusapkannya ke badan
Tidak suka tidur sebelum Isya’
Tidur pada awal malam dan bangun di sepertiga akhir
Berwudlu dulu jika akan tidur dalam keadaan junub
Berdo’a sebelum dan setelah bangun tidur
Membaca do’a jika terjaga dari tidur
Tidur matanya namun tidak tidur hatinya
Menyilangkan kaki jika tidur di masjid
Tidur hanya beralaskan tikar
Tidak menyukai tidur tengkurap
VII. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM BEPERGIAN
Berlindung kepada Allah dari beban perjalanan jika hendak bepergian
Sengang bepergian pada hari kamis
Senang pergi pada pagi hari
Menyempatkan tidur dalam perjalanan di malam hari
Melindungi diri atau menjauh jika buang haajt
Berada di barisan belakang saat bepergian
Bertakbir tiga kali ketika telah berada di atas kendaraan
Bertakbir saat jalanan naik dan bertasbih saat jalanan menurun
Berdo’a jika tiba waktu malam
Berdo’a jika melihat fajar dalam perjalanan
Berdo’a ketika kembali dari bepergian
Mendatangi masjid terlebih dahulu saat baru tiba dan shalat dua raka’at
Mengundi istri-istrinya jika bepergian
Shalat di atas kendaraan
Menghadap ke arah kiblat terlebih dahulu jika shalat di atas kendaraan
Mendo’akan orang yang ditinggal pergi
Mendo’akan orang yang akan bepergian
Memberi bagian tersendiri kepada orang yang diutus pergi
VIII. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM DZIKIR DAN DO’ANYA
Senang berdoa dengan do’a yang ringkas
Membaca istighfar tiga kali dan berdzikir selepas shalat
Membaca istighfar tujuh puluh kali hingga seratus kali setiap hari
Membaca shalat dan salam atas dirinya jika masuk dan keluar dai masjid
Membaca do’a di pagi dan sore hari
Membaca do’a di akhir majlis
Membaca do’a saat keluar rumah
Berdo’a jika masuk dan keluar kamar kecil
Berdoa jika memakai pakaian baru
Berdo’a jika merasa sakit
Berdo’a jika melihat bulna
Memanjatkan do’a di saat sulit
Berdo’a jiika takut pada suatu kaum adan saat bertemu musuh
Berdo’a jika bertiup angin kencang
IX. PERNIK-PERNIK KEBIASAAN NABI SAW
Selalu mengingat Allah di setiap waktu
Mengulangi perkataan hingga tiga kali dan bicara dengan suara yang jelas
Selalu mendahulukan yang kanan
Menutup mulut dan merendahkan suara apabial bersin
Tidak menolak jika diberi minyak wangi
Tidak pernah menolak hadiah
Selalu memilih yang lebih mudah
Bersujud syukur jika mendapat kabar gembira
Bersujud tilawah jika membaca ayat sajdah
Tidak datang ke rumah pada wkatu malam melainkan pada pagi dan sore hari
Tidak suka berbincang-bincang setelah Isya’
Tidak senang menyimpan harta dan selalu memberi jika ada yang meminta
Mengulang salam hingga tiga kali
Turut mengerjakan pekerjaan rumah
Pergi ke masjid Quba setiap sabtu
Sangat marah jika hukum Allah dilanggar namun tidak marah jika dirinya disakiti
Berubah warna mukanya jika tidak menyukai sesuatu
Memilih waktu yang tepat dalam menasehati
Tidak bohong dalam bergurau
Berdiri apabila melihat iringan jenazah
Baru mengangkat pakaian jika telah dekat dengan tanah saat buang hajat
Buang air kecil dengan jongkok
Bermusyawarah jika membicarakan suatu masalah yang penting
Menyuruh istrinya agar memakai kain jika ingin menggaulinya dalam keadaan haidh

Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan. Amin.
uripsantoso.wordpress.com
*Kutipan: Akaha, Abduh Zulfidar, 160 Kebiasaan Nabi saw, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, cetakan I, 2002