Rabu, 24 April 2013

Model - Model Pembelajaran IPA


MODUL 2
MODEL – MODEL PEMBELAJARAN IPA
Konstruktivisme dalam Pembelajaran IPA

A.    Pandangan Tentang Belajar dan Mengajar
Tugas guru dalam mengajar antara lain adalah membantu transfer belajar. Tujuan transfer belajar ialah menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru. Melalui penugasan dan diskusi kelompok misalnya seorang guru dapat membantu transfer belajar
Bigge (dalam Dahar, 1989) merangkum perbedaan penting antara teori belajar perilaku dan teori belajar kognitif. Seorang guru penganut teori perilaku berkeinginan untuk mengubah perilaku siswanya, sedangkan guru yang berorientasi teori kognitif berkeinginan untuk mengubah pemahaman siswanya.
Sesungguhnya adda dua kutub belajar dalam pendidikan, yaitu tabula rasa dan konstruktivisme. Tabula rasa siswa diibaratkan sebagai kertas putih yang dapat ditulisi apa saja oleh gurunya atau ibarat wadah kosong yang dapat diisi apa saja oleh gurunya. Sedangkan konstrutivisme setiap orang yang belajar sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri
1.      Struktur Kognitif
Hasil belajar dapat dikategorikan menjadi informasi verbal; keterampilan; konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan; taksonomi dan keterampilan memecahkan masalah; strategi belajar dan strategi mengingat. Struktur kognitif mengalami perubahan sejak lahir dan maju berkelanjutan sebagai hasil proses be;ajar dan pendewasaan/kematangan.
2.      Konsep dan konsepsi
Konsep dan konsepsi merupakan dua istilah yang sering dipertukarkan penggunannya, padahal keduanya berbeda baik dalam pengertian maupun penggunaannya. Menurut Rosser (dalam Dahar, 1989:80) konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek, kejadian, kegiatan, atau hubungan, yang memiliki atribut yang sama.
Bell (1995) memberikan batasan konsep dalam 2 dimensi. Dimensi pertama menyatakan konsep sebagai konstruk mental dari seseorang yang ditandai oleh satu atau lebih kata yang menyatakan konsep khusus. Dimensi kedua menyatakan konsep sebagai pengertian yang diterima secara sosial.
Prinsip terbentuk dari konsep. Pembentukan prinsip dari konsep melibatkan hubungan antar konsep. Terdapat empat tipe dasar hubungan yang dinyatakan dalam prinsip, yaitu sebab akibat (cause-and effect), korelasional (corelational), peluang (probability), dan aksioma (axiomatic). Tipe dasar hubungan sebab akibat paling banyak terdapat dalam IPA, tetapi dalam tipe lainnya juga banyak ditemukan. Contohnya : Penyakit TBC disebabkan oleh organisme yang disebut Mycobacterium tuberculosis. (Hubungan sebab akibat). Perkembangan teori sel berlangsung sejalan dengan perkembangan temuan alat dan prosedur dalam mempelajari sel. (Korelasional). Logam (pada umumnya) mengembang jika dipanaskan. (Peluang). Bujangan atau perjaka adalah laki-laki dan belum/tidak kawin. (aksiomatik)
Pengalaman seseorang tentang sesuatu (stimulus) menghasilkan konsepsi. Konsepsi seseorang berbeda dengan konsepsi orang yang lain. Konsepsi berasal dari kata to conceive yang artinya cara menerima. Contohnya konsepsi awam tentang “konsep” berarti draft, seperti pada konsep surat.

B.     Pandangan Konstruktivisme Tentang Belajar IPA
1.      Belajar sebagai Perubahan Konsepsi
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat, dan dengar (West & Pines,1985). Pembentukan makna merupakan suatu proses aktif yang terus berlanjut. Jadi siswa memiliki tanggung jawab atas belajar mereka sendiri.
2.      Perubahan Konsepsi dalam Pembelajaran IPA
Pembelajaran dan perspektif konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu:  
a.       Berkaitan dengan prakonsepsi atau pengetahuan awal (prior knowledge).
b.      Mengandung kegiatan pengalaman nyata (experience).
c.       Melibatkan interaksi sosial ( social interaction).
d.      Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (sense making).
Implikasi pandangan konstruktivisme untuk pembelajaran dapat disarikan beberapa kebaikan pembelajaran berdasarkan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
a.       Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b.      Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaiakan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki (diberi) kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang.
c.       Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya agar siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang teori dan model, mengenalkan gagasan-gagasan sains pada saat yang tepat.
d.      Pembelajaran konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar..
e.       Pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
f.       Pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu “jawaban yang benar”.
Jadi, dalam perspektif konstruktivisme belajar itu merupakan proses perubahan konsepsi.
3.      Pentingya Konteks
Perubahan konsepsi akan terjadi apabila kondisi yang memungkinkan terjadinya perubahan konsepsi terpenuhi dan tersedia konteks ekologi konsepsi untuk berlangsungnya perubahan itu. Ekologi konsepsi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.       Anak merasa tidak puas dengan gagasan yang dimilikinya.
b.      Gagasan harus dapat dimengerti (intelligible).
c.       Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible).
d.      Konsepsi yang baru harus dapat memberi suatu kegunaan (fruitful).

C.    Model-model Pembelajaran Untuk Perubahan Konsepsi
Terdapat beberapa hal yang perlu ditekankan dalam konstrutivisme yaitu sebagai berikut:
1.      Yaitu Peran aktif siswa dalam mengonstruksi pengetahuan secara bermakna.
2.      Pentingnya membuat kaitan antargagasan oleh siswa dalam mengonstruksi pengetahuan.
3.      Mengaitkan gagasan siswa dengan informasi baru di kelas.
Dikenal beberapa model pembelajaran yang dilandasi konstruktivisme yaitu model siklus belajar (learning cycle model), model pembelajaran generatif (generative learning model), model pembelajaran interaktif (interactive learning model), model CLIS (Children learning in science) dan model strategi pembelajaran kooperatif atau CLS (cooperative learning strategies).
D.    Contoh Model Pembelajaran Konstruktivisme
Contohnya mengenai cecak atau cacing tanah. Mereka menduga cecak atau cacing tanah hanya satu macam, padahal keduanya terdiri lebih dari satu genus. Berikut model yang akan dicontohkan mengenai cacing tanah melalui 3 tahap dalam pembelajaran konstruktivisme.
1.      Fase Eksplorasi
a.       Diperlihatkan tanah berisi caacing dan diajukan pertanyaan: “Apa yang kamu ketahui tentang cacing tanah?”.
b.      Semua jawaban siswa ditampung (ditulis di papan tulis jika perlu)
c.       Siswa diberi kesempatan untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya dan diberi kesempatan untuk merumuskan hal-hal yang tidak sesuai dengan jawaban mereka semula.
2.      Fase Klarifikasi
a.       Guru memperkenalkan macam-macam cacing dan spesifikasinya.
b.      Siswa merumuskan kembali pengetahuan mereka tentang cacing tanah.
c.       Guru memberikan masalah berupa pemilihan cacing yang cocok untuk dikembangbiakkan.
d.      Siswa mendiskusikannya secara berkelompok dan merencanakan penyelidikannya.
e.       Secara berkelompok siswa melakukan penyelidikan untuk menguji rencananya.
f.       Siswa mencari tambahan rujukan tentang manfaat cacing tanah dulu dan sekarang.
3.      Fase Aplikasi
a.       Secara berkelompok siswa melaporkan hasilnya, dilanjutkan dengan penyajian oleh wakil kelompok dalam diskusi kelas.
b.      Secara bersama-sama siswa merumuskan rekomendasi untuk para pemula yang ingin ber-“ternak” cacing tanah.
c.       Secara perorangan siswa membuat tulisan tentang peri kehidupan jenis cacing tanah tertentu sesuai hasil pengamatannya.



Model Pembelajaran

A.    Model Pembelajaran Interaktif
1.      Pengertian
Model pembelajaran ini sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa bertanya dan kemudian menemukan jawaban dan pertanyaan mereka sendiri.
2.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Interaktif
a.       Persiapan: guru dan kelas memilih topik dan menemukan informasi yang melatarbelakanginya.
b.      Kegiatan penjelajahan: lebih melibatkan siswa pada topic yang sedang dibahas.
c.       Pertanyaan anak: saat kelas mengundang siswa  untuk mengajukan pertanyaan tentang topik yang dibahas.
d.      Penyelidikan: guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi, selama 2-3 hari, dalam selang 3-4 hari.
e.       Refleksi: melakukan evaluasi untuk memantapkan hal-hal yang terbukti dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

3.      Contoh Model Pembelajaran Interaktif
a.       Persiapan
Sebelum pembelajaran dimulai, guru menugasi siswa kelas 3 SD untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing.
b.      Kegiatan penjelajahan
Pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat dan mereka boleh mengajukan pertanyaan.
c.       Pertanyaan anak
Selanjutnya pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya.
d.      Penyelidikan
Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalkan siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, di mana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya.
e.       Refleksi
Pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda disekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya.  
4.      Kebaikan dan Keterbatasannya
Salah satu kebaikan dari model ini adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan (observasi, penyelidikan).

B.     Model Pembelajaran Terpadu (Integrated)
1.      Pengertian
Model ini merupakan salah satu model yang sedang trend dilakukan dewasa ini. Berdasarkan sifat keterpaduannya pembelajaran ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu model dalam satu disiplin ilmu, model antar bidang, dan model dalam lintas siswa.
2.      Langkah-langkah Penyusunan Model Pembelajaran Terpadu
a.       Mengkaji GBPP IPA untuk menganalisis konsep-konsep penting yang akan diajarkan.
b.      Membuat bagab konsep yang menghubungkan konsep satu dengan konsep lainnya.
c.       Memilih tema sentral yang dapat menjadi paying untuk memadukan konsep-konsep tersebut.
d.      Membuat TPK dan deskripsi kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkay perkembangan untuk setiap konsep.
e.       Membuat bahan bacaan berupa cerita yang mengacu pada tema, disertai gambar dan permainan.
f.       Menyusun jadwal kegiatan dan alokasi waktu yang diperlukan secara proporsional.
g.      Menyusun kisi-kisi perangkat tes dan soal tes.
3.      Contoh Model Pembelajaran Terpadu
Untuk konsep-konsep IPA cawu pertama kelas 3 tentang Makhluk hidup dan Benda disiapkan tema sentral “Ke Kebun Binatang”, dan disiapkan lembar kerja sebagai berikut:
a.       Tujuan: siswa dapat menklasifikasikan tumbuhan, hewan, dan benda berdasarkan kriteria tertentu.
b.      Alat dan bahan yang diperlukan setiap siswa bebas membawa tumbuhan, hewan, dan benda untuk dikumpulkan menjadi arena kebun binatang. (Guru membagi tugas membawa bahan percobaan agar terorganisir)
c.       Langkah kerja sebagai berikut.
~        Kumpulkan tumbuhan, hewan, benda yang dibawa pada dua buah meja, dapat dilakukan di halaman sekolah jika memungkinkan.
~        Susun yang rapi tumbuhan, hewan, dan benda pada meja dengan komposisi yang sama antara satu meja dengan meja lainnya.
~        Tugasi siswa untuk mengisi Lembar Pengamatan secara berkelompok untuk tiap meja. Suruh siswa mengamati seakan-akan sedang berjalan-jalan di kebun binatang.
~        Diskusikan jawaban siswa. Mantapkan jika benar, perbaiki jika kurang tepat.
4.      Kebaikan dan Keterbatasannya
Melalui pembelajaran ini siswa diajak untuk melakukan pengelompokkan berdasarkan hal yang teramati oleh mereka. Keterbatasannya jika konsepnya sudah kompleks, sulit dipadukan atau guru mengalami kesulitan untuk memadukannya.

C.     Model Pembelajaran Siklus Belajar (Learning Cycle)
1.      Pengertian
Dalam pelaksaannya model siklus belajar terdiri atas tiga fase, yaitu eksplorasi, pengenalan konsep, dan penerapan konsep. Siklus disini diartikan bahwa tahap-tahap tersebut dapat berulang.
2.      Urutan pembelajaran
a.       Ekplorasi
Tahap ini siswa diberi kesempatan untuk melakukan penjelajahan atau eksplorasi secara bebas. Kegiatan ini memberi siswa pengalaman fisik dan interaksi sosial dengan teman dan gurunya.
b.      Pengenalan konsep
Pada fase ini guru dengan metode yang sesuai menjelaskan konsep dan teori-teori yang dapat membantu siswa untuk menjawab permasalahan yang muncul dan menyusun gagasan mereka.
c.       Penerapan konsep
Pada fase ini siswa mencoba menggunakan konsep yang telah dikuasai untuk memecahkan masalah dalam situasi yang berbeda.
3.      Contoh model pembelajaran siklus belajar (kelas 5 cawu ke 1)
a.       Tujuan
Siswa memahami saling ketergantungan antarmakhluk hidup dengan melakukan pengamatan dan menafsirkan hasil pengamatan.
TPU Antara
Setlah meneliti jenis makanan sejumlah hewan, siswa dapat mengelompokkan hewan berdasarkan jenis makanannya
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah meneliti jenis makanan sejumlah hewan, siswa dapat mengelompokkan hewan yang termasuk pemakan tumbuhan, hewan, dan tumbuhan serta hewan.
Setlah berdiskusi siswa dapat menyimpulkan bahwa semua hewan memperoleh makanan dengan cara memakan makhluk hidup lain/
b.      Konsep
Definsi konsep
-          Pemakan tumbuhan menggunakan tumbuhan sebagai makanan.
-          Pemakan daging memakan hewan lain.
-          Pemakan segala memakan daging dan tumbuhan.
-          Pemakan (konsumen) memakan makhluk hidup lain sebagai sumber makanan.
4.      Kebaikan dan keterbatasannya
Jumlah tahap yang hanya tiga termasuk sederhana dan mudah diingat, namun memunculkan situasi konflik tidak selalu berhasil. Model pembelajaran ini sering sekali tertukar dengan siklus dalam penelitian tindakan kelas.
D.    Model Pembelajaran IPA atau CLIS (Children Learning Science)
1.      Pengertan
Model CLIS dikembangkan oleh kelompok Children Learning in Science di Inggris yang dipimpin oleh Driver (1988, Tytler. 1996)

2.      Urutan Pembelajaran
Model CLIS terdiri atas lima tahap utama, yakni:
a.       Orientasi
b.      Pemunculan gagasan
c.       Penyusunan ulang gagasan
d.      Penerapan gagasan
e.       Pemantapan gagasan
Tahap penyusunan ulang gagasan masih dibedakan menjadi tiga bagian:
a.       Pengungkapan dan pertukaran gagasan
b.      Pembukaan pada situasi konflik
c.       Konstruksi gagasan baru dan evaluasi

3.      Contoh model pembelajaran CLIS
Subkonsep: Makhluk hidup memerlukan udara dan pernapasan
No.
Tahap
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Keterangan
1.
Orientasi
Menunjukkan kantung kresek warna hitam dan mengajukan pertanyaan: “Jika kantung ini dipasang ke kepala Ibu/Bapak guru, apa yang akan terjadi?”
Siswa menjawab bergantian, antara lain “napas menjadi sesak, gelap, tidak bisa bernapas”
Guru meminta siswa memperagakan
2.
Pemunculan gagasan
Menginstruksikan siswa untuk menjawab pertanyaan no. 1-4 dalam LKS
Masing-masing siswa mengerjakan pertanyaan 1-4 LKS
Siswa ingin mengetahui alat pernapasan pada manusia, hewan dan tumbuhan
3a.
Pertukaran gagasan
Memberikan aba-aba untuk mendiskusikan jawaban pertanyaan di atas dalam kelompok masing-masingnya
Diskusi kelompok untuk menentukan jawaban kelompok
Jawaban kelompok ditulis di kertas tersendiri
3b.
Situasi konflik
Membimbing kegiatan percobaan 1 & 2 di LKS 1
Mengerjakan kegiatan 1 & 2 secara berkelompok
Semua anggota kelompok aktif berpartisipasi
3c..
Konstruksi gagasan baru
Membimbing siswa yang kurang mengerti dengan teknik bertanya “probing”
Diskusi kelompok menjawab pertanyaan pada kegiatan 1 & 2
Beberapa siswa memerlukan bimbingan
4.
Penerapan gagasan
Mengamati dan membimbing kegiatan siswa
Diskusi menjawab pertanyaan no. 5-7 di LKS 1
Periksa jawaban yang belum konsisiten dengan konsep ilmiah

1 komentar:

  1. menambah wawasan...kunjungi juga blog saya http://igedearisuciptayasa.blogspot.com/

    BalasHapus